Praktek vs Teori

Perlu sobat ketahui bahwa gue ini seorang guru, tepatnya guru Bahasa Indonesia. Profesi itu gue geluti sejak tahun 2007 silam. Menjadi guru bukanlah cita-cita gue, tapi itu pilihan hidup gue. Waktu gue masih duduk di bangku sekolah, gue pernah mendapatkan perlakuan yang menurut gue saat itu menyakitkan banget: dijewer, dicubit, dan diplintir rambut gue. Dengan memilih menjadi guru, gue bermaksud melakukan aksi balas dendam kepada guru gue lewat anak-anak guru yang jewer gue. Saat dulu gue dijewer sama guru gue, dalam hati gue menjerit, merintih, dan berkata, "Awas ntar kalau gue jadi guru, gue bakal membalas ini semua. Gue bakal membantai semua garis keturunan lo sampai ke akar-akarnya."

Sebagai seorang guru, gue lebih sering keluar dari jalur keguruan atau istilah jadulnya out of the box. Gue lebih milih menggunakan cara gue sendiri daripada menerapkan teori-teori kependidikan yang gue peroleh selama duduk di bangku kuliah. Bukan berarti teori-teori itu salah, tapi karena gue lupa kalau gue gak pernah ngerti teori-teori itu. Maklum saja, gue ini termasuk ke dalam golongan mahasiswa NTT alias "mahasiswa nitip tanda tangan".

Dalam mengajar, gue jarang banget ngasih teori ke murid-murid gue. Apa alasannya? Alasan utama gue ngelakuin itu karena gue nganggap teori itu gak begitu penting. Gue gak mau nambah jumlah penduduk Indonesia Raya yang berkepala botak karena efek terlalu banyak nyimpen teori di kepalanya. Gue juga gak mau nambah jumlah penduduk Indonesia Raya yang cuma pandai berteori tanpa bisa mempraktekannya, seperti anggota DPR.

Filosofi gue adalah "Ilmu yang gak diamalin itu tak beda dengan pohon yang gak berbuah". Segede apapun sebatang pohon gak bakal terasa sempurna manfaatnya bagi pemiliknya kalo gak ada buahnya. Palingan pohon itu akan ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Habislah tak berbekas. Kalau pohon itu besar dan rindang di pinggir jalan, paling juga cuma dimanfaatin buat tempat berteduh dari panas dan hujan. Lebih tragis lagi kalau digunain buat kencing. Pesing kan jadinya?

Dengan filosofi itu, gue lebih sering nyuruh siswa untuk praktek. Tentunya dengan arahan dari gue biar mereka gak tersesat seperti "Gafatar". Lho, kok langsung praktek, gimana kalau mereka gak tahu caranya? Justru di situ kelebihan metode yang gue pakai. Tadi kan dah gue jelasin kalau ada arahan dari gue. Jadi kalau mereka gak paham bisa tanya kepada gue. Itu pun gak langsung gue jawab. Gue biasanya balik tanya dengan ngasih pancingan-pancingan yang mengarah ke jawaban yang mereka kasih ke gue. Dengan begitu mereka akan menemukan jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan.

Dengan metode ini, gue yakin mereka akan lebih produktif, kreatif, komunikatif, dan tambah pede. Oh ya satu lagi, pemahaman mereka terhadap suatu materi akan mampu bertahan lebih lama dibandingkan dengan mereka yang hanya ngerti teori doang. Analoginya seperti ini Sob, orang yang bisa nggoreng tempe, pasti tahu gimana teori nggoreng tempe. Tapi gak semua orang yang ngerti teori nggoreng tempe belum tentu bisa nggoreng tempe. Dan sekali orang bisa nggoreng tempe, maka seumur hidupnya mereka akan bisa nggoreng tempe. Bahkan mereka bisa ngajarin ke orang lain tentang cara nggoreng tempe.

Related Posts:

0 Response to "Praktek vs Teori"

Posting Komentar