Menjelang ulang tahun pertama Clan Jarate Kingdom, gue selaku leader menyusun sebuah rencana untuk merayakannya bersama para jarateka di Cikarang. Mengapa gue memilih Cikarang buat merayakan ultah Jarate Kingdom? Alasannya adalah karena mayoritas jarateka berdomisili di Cikarang.
Untuk menyukseskan rencana tersebut, gue langsung menghubungi teman-teman di Cikarang. Walhasil, teman-teman di Cikarang memberikan signal positif. Bahkan mereka menjanjikan acara nanti akan lebih gede dibandingkan kopdar pertama. Secara setelah kopdar pertama, anggota jarateka bertambah dengan dibuatnya clan family Jarate Kingdom, yang diberi nama Jarare Academy. Mereka memilih tanggal 25 Maret 2016 sebagai hari pertemuan.
Langkah berikutnya adalah mencari cara supaya sampai di Cikarang tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, mengingat hari pertemuan yang telah ditentukan merupakan tanggal tua bagi gue yang notabene seorang guru swasta di pelosok desa. Ah, gue kontak saja leader di Jarate Academy, Mas Wiro namanya. Gue tawarin ja akun COC kedua gue untuk ditukar dengan tiket perjalanan pergi-pulang. Obrol punya obrol via bbm, akhirnya Mas Wiro setuju mendanai biaya perjalanan gue. Bahkan dia juga siap memberikan full sevis gratis selama gue di sana.
24 Maret 2016
Kamis (24/3) merupakan hari H keberangkat gue ke Cikarang. Namun, sampai dengan hari itu gue belum melakukan persiapan apa pun, termasuk packing pakaian dan tiket. Baru pukul 13.00 WIB gue meluncur ke Terminal Pecangaan, Jepara untuk mencari tiket. Eh, sampai di sana malah agen tiket bus sudah pada pulang. Untung saja masih tersisa satu agen tiket bus, yang dengan kebaikan hatinya bersedia menghubungi agen bus New Shantika. Ya, saat itu gue memilih bus New Shantika karena penasaran dengan cerita teman-teman tentang kemegahan busnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya gue dapat pula nomor kursi, yaitu nomor 3. Meski tiket belum di tangan, tapi gue dah lega karena paling gak gue dah dapat bus menuju Cikarang.
Begitu dapat kepastian tentang bus, gue langsung pulang untuk mempersiapkan pakaian. Eh, tarnyata sampai rumah semua pakaian plus sabun dkk sudah siap di tas gue. Meski agak berat melepas kepergian gue ke Cikarang, ternyata istri gue tetap mendukung kepergian gue. Itu karena dia sudah paham dengan karakter gue, kalau sudah punya keinginan gak mungkin bisa dicegah. Istri gue juga sedikit trauma karena dulu saat kepergian pertama gue ke Cikarang, pakaian gue banyak yang tertinggal di rumah gara-gara gak disiapin.
Sore hari selepas ashar, gue langsung bergegas menuju terminal. Dianterin keponakan gue yang juga anggota jarateka, gue puntir gas sepeda motor agak dalam. Gue khawatir kalau tertinggal bus. Pasalnya gue kan belum pegang tiket busnya.
Sampai di terminal, kondisi masih lengang. Biasanya jam segitu deretan berbagi bus sudah memenuhi terminal. Gue langsung nyamperin agen bus New Shantika untuk nukerin nota yang gue dapetin tadi siang dengan tiket. Gue dapat bus 7B. Kata agen busnya, ntar busnya standby di terminal Kudus. Dari Pecangaan ke Kudus gue bakal dititipin bus yang kosong. Gue sih ikutin ja apa kata agen busnya.
Lumayan lama gue nunggu kedatangan bus New Shantika. Untung saja gue ketemu saudara yang mau pergi ke Jakarta. Jadi ada temen ngobrol di terminal. Kami ngobrol banyak hal sambil menghisap beberapa batang rokok.
Menjelang maghrib, sekira pukul 15.30 WIB datang juga bus dengan nomor 10B. Oleh agen bus, gue disuruh naik bus itu. Sampai di dalam, gue agak terkesan dengan bus New Shantika, terutama tempat duduknya yang nyaman. Namun ada yang mengganjal di hati gue. Kok gak ada jaringan wifi ya? Ah, mungkin belum diaktifin ma crew busnya.
Perjalanan menuju terminal Kudus agak tersendat karena jalanan ramai oleh pengendara sepeda motor. Gue malah agak terhibur dengan kondisi jalan yang agak macet. Pasalnya sering terdengar suara klakson bus yang terdengar indah di telinga.
Sekitar pukul 18.30 bus yang mangantarkan gue sampai di Terminal Kudus. Sebagaimana instruksi dari agenbus, gue langsung mencari bus 7B. Begitu ketemu, gue terperangah melihat busnya yang terlihat agak kusam. Ditambah lagi setelah naik ke dalam bus, kursinya tipis, gak ada wifi-nya pula. Ah sudahlah, yang penting bisa samapi di tujuan. Tapi jujur, gue kecewa berat.
Rasa kecewa saya bertambah saat bus sudah mulai jalan. Suara musik kurang begitu menggelora untuk bus selevel New Shantika. Ditambah crew hanya membagikan sebotol air mineral tanpa ada kudapannya. Sungguh ini jauh di luar dugaan gue. Bayangan gue sih sebanding dengan pelayanan Bejeu, eh ternyata jauh banget.
Bersambung....